CONTOH SKRIPSI FISIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK.DOC

CONTOH SKRIPSI FISIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK

DOWNLOAD SKRIPSI FULL KLIK DISINI
Cara download : Klik link - Tunggu 5 Detik klllik SKIPAD pojok kanan atas.

Gambaran Skripsi : 
Judul : "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN GAYA DAN PERCEPATAN"

A. Landasan Teori 
Belajar adalah sesuatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat berlangsung di mana-mana, misalnya di lingkungan keluarga, di sekolah dan di masyarakat, baik disadari maupun tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja.

Menurut WS. Winkel (1989: 36) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam suatu interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan ini relatif konstan dan berbekas (TIM MKDK IKIP Semarang, 2000:4). 
Hakikat belajar dan mengajar yang lebih progresif berbeda dengan hakikat belajar dan mengajar dengan pola tradisional. Pada pola tradisional, kegiatan mengajar lebih diarahkan pada aliran informasi dari guru ke siswa. Pandangan ini mendorong guru untuk memerankan diri sebagai tukang ajar. Artinya apabila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan serta menuntaskan/menyelesaikan semua materi pelajaran sesuai dengan waktu yang disediakan. Pada pola progresif makna belajar diartikan sebagai pembangunan gagasan pengetahuan oleh siswa sendiri selain peningkatan ketrampilan dan pengembangan sikap positif. Oleh karena itu istilah mengajar yang dianggap berkonotasi “teachers centered” diganti dengan istilah pembelajaran. Diharapkan dengan penggunaan istilah pembelajaran guru akan selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil yang optimal.

Sesuai dengan pengertian belajar yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku, maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa secara sadar dan sengaja, agar proses belajar dapat berjalan dengan maksimal, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (TIM MKDK IKIP Semarang, 2000:24).

Karena pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja, maka pembelajaran itu bertujuan membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah, baik kuantitas maupun kualitas. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, ketrampilan dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa.

Tujuan-tujuan belajar diusahakan untuk dicapai dalam proses atau kegiatan belajar pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan ketrampilan dan sikap siswa akibat dari hasil belajar yang telah dilakukan siswa (Arikunto, 2002: 132). Jadi, apabila tujuan pembelajaran tercapai maka akan nampak pada diri siswa perubahan- perubahan yang meliputi kemampuan intelektual, sikap/minat maupun ketrampilan.

Untuk pencapaian tujuan tersebut tidak cukup guru berceramah dari menit pertama sampai menit terakhir pada setiap KBM. Akan tetapi siswa perlu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan praktis dalam bentuk percobaan atau penelitian. 

Motivasi belajar siswa dapat berubah-ubah disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor ini bisa bersifat instrinsik maupun ekstrinsik. Yang bersifat intrinsik yaitu kemauan belajarnya lebih kuat dan tidak bergantung pada faktor luar dirinya. Sedangkan yang bersifat ekstrinsik yaitu kemauan belajar sangat bergantung pada kondisi di luar dirinya, namun dalam kenyataanya motivasi ekstrinsik yang sering terjadi. Oleh karena itu upaya menimbulkan dan meningkatkan motivasi belajar khususnya oleh guru, merupakan suatu hal yang perlu dan wajar. 
Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut: 
1. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar. 
2. Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran. 
3. Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman atau kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa. 
4. Mengembangkan cita-cita atau aspirasi siswa. 
Dengan upaya-upaya motivasi belajar yang dilakukan di atas, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu. Jadi, kualitas pembelajaran dapat diartikan sebagai tingkat baik buruknya suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik.

Apabila dicapai kualitas pembelajaran yang baik maka akan dicapai pula hasil belajar yang baik. Pengertian hasil belajar dalam hal ini adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia melaksanakan pengalaman belajarnya (Sudjana, 1989:22). Bloom dalam Sudjana membagi tiga ranah hasil belajar yaitu: 
1. Ranah kognitif 
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. 
2. Ranah Afektif 
Berkenaan dengan sikap yang terdiri dai lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi penilaian, organisasi dan internalisasi. 
3. Ranah Psikomotorik 
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Hasil kognitif diukur pada awal dan akhir pembelajaran, sedangkan untuk hasil belajar afektif dan psikomotorik diukur pada proses pembelajaran untuk mengetahui sikap dan ketrampilan siswa. 

Untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal, seorang guru harus dapat memilih model pembelajaran yang efektif dan efisien, serta metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa agar situasi kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik, dengan suasana yang tidak membosankan siswa.

Salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kurikulum 2004, adalah model pembelajaran kooperatif (Suradi, 2004). Pembelajaran kooperatif adalah suatu pembelajaran teman sebaya dimana siswa bekerja dalam kelompok yang mempunyai tanggung jawab individual maupun kelompok terhadap ketuntasan tugas-tugas. Pada pembelajaran kooperatif, siswa ditempatkan pada kelompok-kelompok kooperatif dan tinggal bersama sebagai satu kelompok untuk beberapa minggu atau bulan. Mereka berlatih ketrampilan-ketrampilan untuk bekerja sama dengan baik, membantu teman dalam kelompoknya masing-masing.

Sebenarnya pembelajaran kooperatif merupakan ide lama. Pada awal abad pertama seorang filosof berpendapat bahwa untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan/teman. Dari situlah ide pembelajaran koopertif itu dikembangkan. Herbert Thelan, mengembangkan prosedur yang lebih tepat untuk membantu siswa bekerja dalam kelompok. Thelan berargumentasi bahwa kelas haruslah merupakan laboratorium atau miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi (Fida Rachmadiarti, 2003:10).

Adapun ciri-ciri dari pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: 
1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya. 
2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. 
3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda. 
4) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan ketrampilan sosial (Fida Rachmadiati: 2003: 7). Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif, yaitu: 
1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 
2) Menyajikan informasi 
3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. 
4) Membimbing kelompok bekerja dan belajar 
5) Evaluasi 
6) Memberi penghargaan 
Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama dalam tugas-tugas yang terstruktur (Lie, 2002:17). Setiap anggota kelompok bertanggung jawab tidak hanya untuk mempelajari konsep yang diajarkan, tetapi juga untuk bekerjasama dalam belajar. Keberhasilan individu dalam belajar diorientasikan oleh keberhasilan kelompok.

Jadi sistem pengajaran cooperatif learning bisa didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk dalam struktur ini ada lima unsur pokok (Johnson&Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan yang positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian kerjasama dan proses kelompok.

Terdapat beberapa variasi dari model pembelajaran kooperatif. Investigasi Kelompok adalah salah satunya. Di dalam pembelajaran ini, siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil menggunakan inkuiri kooperatif (pembelajaran kooperatif bercirikan penemuan), diskusi kelompok dan perencanaan kooperatif. 
Dalam metode ini, siswa tergabung dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari empat sampai enam anggota. Setelah memilih subtopik dari sebuah topik yang sedang dipelajari seluruh kelas, kelompok-kelompok itu memecahkan subtopik mereka. Setiap kelompok kemudian membuat presentasi/peragaan untuk mengkomunikasikan temuanya kepada seluruh kelas.

Guru yang menggunakan Investigasi kelompok memiliki sedikitnya tiga tujuan, yaitu:(1). Invetigasi Kelompok membantu siswa belajar bagaimana menyelidiki suatu topik secara sistematis dan analitis (proses inkuiri), (2). Pemahaman yang mendalam atas suatu materi, (3). Diskusi belajar bagaimana bekerjasama dalam memecahkan suatu masalah.

Menurut Sharan dkk.(1984), terdapat enam tahapan Investigasi Kelompok yaitu sebagai berikut: 
1) Pemilihan topik 
Siswa memilih subtopik dari topik yang dipelajari, yang biasanya ditetapkan oleh guru. Dalam hal ini siswa memilih lembar kegiatan yang disediakan oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan menjadi empat sampai enam anggota tiap kelompok menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi tugas. Komposisi kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis. 
2) Perencanaan kooperatif 
Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusus tentang subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama. 
3) Implementasi 
Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan didalam tahap kedua. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan ketrampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis-jenis sumber belajar yang berbeda baik didalam maupun diluar sekolah. 
Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan. 
4) Analisis dan sintesis 
Siswa menganalisis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut diringkas dan disajikan sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas. 
5) Presentasi hasil final 
Beberapa kelompok menyajikan hasil penyelidikannya kepada seluruh kelas, dengan tujuan agar siswa yang lain terlibat satu sama lain dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada topik itu. 
6) Evaluasi 
Siswa dan guru mengevaluasi tiap konstibusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual atau kelompok. 

B. Materi Tentang Gaya dan Percepatan 
1. Pengertian Gaya 
Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan perubahan gerak dan atau bentuk suatu benda. Pengaruh gaya terhadap benda, antara lain sebagai berikut: 
a. Mengubah gerak suatu benda, misalnya benda diam menjadi bergerak. 
b. Mengubah kecepatan benda, misalnya benda yang bergerak lambat didorong tambah cepat. 
c. Mengubah arah gerak benda, misalnya bola yang dipukul oleh pemain 
d. Mengubah bentuk benda, seperti mistar lurus bila ditekan salah satu ujungnya maka mistar akan melengkung. 

2. Macam-macam Gaya 
Berdasarkan penyebabnya, gaya dikelompokkan sebagai berikut: 
a. Gaya mesin, yaitu gaya yang berasal dari mesin 
b. Gaya magnet, yaitu gaya yang berasal dari magnet. 
c. Gaya gravitasi, yaitu gaya tarik yang diakibatkan oleh benda yang memiliki massa (misal: bumi). 
d. Gaya pegas, yaitu gaya yang ditimbulkan oleh pegas. 
e. Gaya listrik, yaitu gaya yang ditimbulkan oleh muatan listrik. 

Berdasarkan sifatnya, gaya dikelompokkan menjadi dua macam yaitu: 
a. Gaya sentuh 
Gaya sentuh adalah gaya yang bekerja pada benda di mana titik kerjanya langsung bersentuhan dengan bendanya. Contohnya anatara lain: gaya otot, gaya pegas, gaya mesin, gaya gesekan, dan gaya dorong. 

b. Gaya tak sentuh 
Gaya tak sentuh adalah gaya yang bekerja pada benda dimana titik kerjanya tidak langsung bersentuhan dengan bendanya. Contohnya antara lain: gaya listrik, gaya magnet, dan gaya gravitasi.
3. Satuan gaya 
Dalam satuan SI (Sistem Internasional) gaya dinotasikan dengan F berasal dari kata force yang berarti gaya dan dinyatakan dengan satuan newton (N). 

4. Menggambar Gaya 
Gaya dapat digambarkan dengan sebuah anak panah. Titik pangkal anak panah menyatakan titik tangkap gaya, arah mata anak panah menyatakan arah gaya, dan panjang anak panah menyatakan besarnya gaya. 

Pada gambar di atas sebuah gaya digambarkan dengan anak panah OP. titik O merupakan titik tangkap gaya, mata anak panah P menyatakan arah gaya, dan OP menyatakan besarnya gaya. 
Besaran gaya termasuk besaran vektor karena memiliki nilai atau besar dan arah. 

5. Resultan Gaya 
Jika pada sebuah benda dalam waktu bersamaan bekerja beberapa gaya, gaya-gaya itu dapat dipadukan atau dijumlahkan. Dengan demikian, pada benda bekerja sebuah gaya pengganti yang disebut gaya resultan. 
1. Memadu Gaya Sejajar dan Searah : 
2. Memadu Gaya Sejajar dan Berlawanan Arah 

6. Gaya Gesekan
Gaya gesekan adalah gaya yang timbul karena gesekan permukaan dari dua benda atau lebih. 
Gaya gesekan dibagi menjadi dua macam berikut ini. 
1. Gaya gesekan gesekan statis, yaitu gaya gesekan yang bekerja pada benda dalam keadaan diam atau hampir bergerak. Arahnya berlawanan dengan gaya (tarikan atau dorongan) yang bekerja pada benda tersebut, disimbolkan fs. 
2. Gaya gesekan kinetis, yaitu gaya gesekan yang bekerja pada benda bergerak, arahnya berlawanan dengan gaya (tarikan dan dorongan) yang bekerja pada benda tersebut, disimbolkan fk. 

7. Gaya Berat
Berat dan massa mempunyai pengertian yang berbeda. Massa adalah banyaknya zat yang dikandung oleh suatu benda. Massa benda di mana-mana besarnya selalu tetap. 
Berat benda adalah besarnya gaya gravitasi yang bekerja pada benda. Besarnya gaya gravitasi bergantung pada letak benda atau ketinggian benda dari planet yang menimbulkan gaya gravitasi. Misalnya, berat benda di bumi sama dengan besarnya gaya gravitasi bumi pada benda. Berat benda di bulan sama dengan besarnya gaya gravitasi bulan pada benda.

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori di atas maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “Penerapan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Konsep Gaya dan Percepatan”. 
Krd : download skripsi terbaru lenkap. gratis, skripsi fisika terbaru, download contoh skripsi fisika full.
Description: CONTOH SKRIPSI FISIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK.DOC Rating: 5 Reviewer: Krisnanto OM Kris - ItemReviewed: CONTOH SKRIPSI FISIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK.DOC

CONTOH SKRIPSI FISIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK.DOC Adalah Salah Satu Artikel yang saya ajukan kepada anda. Artikel CONTOH SKRIPSI FISIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK.DOC Oleh OM Kris blog, boleh anda copy paste atau disebar-luaskan, namun jangan lupa untuk meletakkan link artikel CONTOH SKRIPSI FISIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK.DOC dibawah ini sebagai sumbernya :
Suka OM Kris Blog

Suka artikel ini

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih atas komentar anda, Mohon jangan meninggalkan link hidup (Ini akan secara otomatis ditandai sebagai spam).